Kamis, 17 Maret 2011

Urgensi Tarbiyah Jasadiyah


1. Badan sehat, sehingga kuat melaksanakan ibadah

2. Kuat, sehingga mampu amar ma’ruf nahi munkar

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt. daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya.’ Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.’” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

3. Berjihad di jalan Allah

-Kemuliaah berjihad
QS. An-Nisa : 95

- Izin dalam berjihad
QS. At-Taubah 41-52, Ali Imron: 156

- Bani Israil berpaling dari berjihad
QS. Al-Baqoroh : 246

- Persiapan
QS Al-Anfal: 60
وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل ترهبون به عدو الله وعدوكم وآخرين من دونهم لا تعلمونهم الله يعلمهم وما تنفقوا من شيء في سبيل الله يوف إليكم وأنتم لا تظلمون

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

- Ada yg tidak berperang, memperdalam agama
QS. At-Taubah: 122

Selasa, 08 Maret 2011

Urgensi Menghafal Al-Qur'an


URGENSI MENGHAFAL AL-QURAN

1. Al-Qur'an sebagai Minhajul Hayah.

2. Ilmu adalah dengan dihafal


Hadits-hadits

”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Sawbersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi, hadits hasan {2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih)

Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal .Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim)

Nabi Saw memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i).

Nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)

Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (Penghargaan khusus dari Nabi Saw). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al
Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya. “Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, :Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih)
Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At Turmudzi).

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)

KIAT MENGHAFAL AL-QURAN

1. Memperbaiki tajwid bacaan (tahsin)
2. Menghafal dengan satu mushof
3. Banyak mengulang dan muroja'ah
4. Mentadaburi
5. Banyak mendengarkan dari Qori

HAL-HAL YANG MENGHALANGI HAFALAN

1. Banyak dosa dan maksiat
2. Melihat aurat wanita yang bukan muhrim

Selasa, 02 November 2010

Tuntunan Sholat Ied

1. Sholat Ied hukumnya sunnah

Muttafaq ‘alaih, dari hadits Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata :

Artinya : "Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar
tetapi tidak bisa difahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia
bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
Shalat lima waktu dalam sehari dan semalam . Ia bertanya lagi : Adakah saya punya
kewajiban shalat lainnya ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja . Beliau melanjutkan sabdanya : Kemudian
kewajiban berpuasa Ramadhan . Ia bertanya : Adakah saya punya kewajiban puasa yang
lainnya ?. Beliau menjawab : Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja . Perawi
mengatakan bahwa kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan
zakat kepadanya. Iapun bertanya : Adakah saya punya kewajiban lainnya ?. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Tidak, kecuali hanya amalan sunnah saja .
Perawi mengatakan, Setelah itu orang ini pergi seraya berkata : Demi Allah, saya
tidak akan menambahkan dan tidak akan mengurangkan ini . Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : Niscaya dia akan beruntung jika ia benar-benar ."

Dari hadits diatas, yang wajib hanya sholat 5 waktu, berarti diluar itu termasuk sholat Ied sunnah.


2. Idul Fitri disunnahkan makan, idul adha tidak makan.

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, "Dahulu Rasulullah
SAW tidak pergi Shalat Hari Raya 'Iedul Fithri melainkan sesudah makan.
Dan tidak makan pada Hari Raya 'Iedul Adlha melainkan sesudah kembali
dari shalat". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 27, no. 540]


3. Berpakaian rapi

Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya Nabi
SAW biasa memakai kain buatan Yaman pada tiap-tiap hari raya. [HR.
Baihaqiy juz 3, hal. 280]


4. Disunnahkan di lapangan

Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةَ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وُيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْءٍ

أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

"Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar di hari raya idul fitri dan
idul adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai
adalah shalat ied, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia,
sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan nasihat dan
wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin
mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau jika beliau
memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu beliau pun pulang".
[HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(913) dan Mulim dalam Shohih-nya (889)]


5. Wanita haid disunnahkan menghadiri

hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha :

أمرنا أن نخرج الحيض يوم العيدين وذوات الخدور فيشهدان جماعة المسلمين ودعوتهم ويعتزل الحيض عن مصلاهن قالت امرأة يا رسول الله إحدانا ليس لها جلباب ؟ قال ( لتلبسها صاحبتها من جلبابها )

Artinya : “Kami diperintah untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan pada dua hari
raya agar mereka menyaksikan Jama’ah dan dakwah kaum muslimin dan wanita yang haid
diperintah untuk menjauhi tempat sholat wanita. Maka berkata seorang wanita : Wahai
Rasulullah , salah seorang dari kami tidak memiliki Jilbab” maka beliau berkata
:”:Hendaklah sahabatnya memakaikan padanya dari jilbab yang dia miliki” (HR.
Bukhori No. 334 dan Muslim No. 890)


6. Bertakbir waktu tiba ditempat sampai berdirinya sholat

Dan bagi Imam Bukhari, Ummu 'Athiyah berkata, "Kita diperintahkan
supaya membawa keluar wanita-wanita haidl lalu bertakbir bersama-sama
dengan orang banyak". [Dalam Nailul Authar juz 3, hal. 324]


7. Tidak ada adzan dan iqomat

أخبرني جابر بن عبدالله الأنصاري أن لا أذان للصلاة يوم الفطر حين يخرج الإمام ولا بعد ما يخرج ولا إقامة ولا نداء ولا شيء لا نداء يومئذ ولا إقامة

Artinya : “Telah mengabarkan kepadaku Jabir Bin Abdillah bahwa tidak ada adzan
pada hari ied ketika Imam keluar (untuk sholat). Dan tidak pula setelah imam
keluar, tidak ada Iqomah , tidak pula adzan dan tidak ada sesuatu apa pun. Tidak
adzan sa’at itu dan tidak pula iqomah” (HR. Muslim No. 886)


8. Tidak ada Sholat Sunnah Qobliyah maupun Ba'diyah

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau
Idul Fitri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak
mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.“ (HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884.)


9. Shalat dulu, kemudian satu kali khutbah

Hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُكَبِّرُ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ يُكْثِرُ فِي خُطْبَةِ الْعِيْدَيْنِ

“Aku shalat ‘ied bersama Rasulullah. Beliau mengawali shalat sebelum khotbah dengan
tanpa azan dan iqamat. Usai shalat, beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal,
kemudian memerintahkan agar bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, menasihati
manusia, dan mengingatkan mereka. Kemudian, beliau berlalu hingga sampai ke tempat
para wanita, menasihati, dan memberi peringatan kepada mereka. Sabdanya,
‘Bersedekahlah kalian, karena mayoritas kalian adalah bahan bakar neraka jahannam’.
Lantas ada seorang wanita yang paling cantik berdiri, pipinya kemerah-merahan,
dengan berkata, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Jawab beliau, ‘Karena kalian banyak
mengeluh dan mengufuri suami.’ Bilal berkata, ‘Mereka lantas menyedekahkan
perhiasan mereka dan diletakkan di baju Bilal berupa anting dan gelang.’” (Hr.
Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

hadits ibnu Abbas Radhiyallahu’ anhuma :

قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya : “ Aku telah menyaksikan (sholat ) ied bersama Rasulullah Shalallahu ‘alahi
wassallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka seluruhnya melakukan sholat sebelum
Khutbah” (HR. Bukhori No. 962 dan Muslim No. 884)

Dari hadits diatas dapat dilihat alkhuthbah, bukan alkhutbatain (dua khutbah)


10. Rakaat pertama 7 kali tabir, rakaat kedua 5 kali

hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يكبر في الفطر والأضحى في الأولى سبع تكبيرات وفي الثانية خمسا .

Artinya : “ Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bertakbir pada hari
iedul fitri dan iedul adha pada raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at
kedua lima kali takbir” takbir (HR. Abu Dawud No. 1149 Dishohihkan oleh Al-Albani
dalam Al-Irwaul Ghalil 3/106-112)


11. Mengucapkan “Taqobbalalloohu minnaa wa minkum

Para shahabat Rasulullah SAW jika bertemu satu dengan yang lain pada
Hari Raya saling mengucapkan, “Taqobbalalloohu minnaa wa minkum”.
[HR. Jubair bin Nufair]