Senin, 02 Maret 2015

Menyia-nyiakan Waktu Shalat


"Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelak) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui sesesatan. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh." (QS. Maryam: 59--60).

Ibnu Abbas berkata, "Makna menyia-yiakan salat salat bukanlah meninggalkannya sama sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya." [1]

----

"Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan salatnya." Al-Maa'uun: 4--5). Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan salat.

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan salatnya. Beliau menjawab, yaitu mengakhirkan waktunya."
Mereka disebut orang-orang yang salat. Namun, ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan Wail, azab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka Jahanam, jika gunung-gunung yang ada dimasukkan ke sana niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan salat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali, orang-orang yang bertobat kepada Allah Taala dan menyesal atas kelalaiannya.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9).
Para mufasir menjelaskan, "Maksud mengingat Allah dalam ayat ini adalah salat lima waktu. Maka, barang siapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan salat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi."
----

Umar bin Khattab berkata, "Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat."Umar bin Khattab meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, "Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang paling dicintai oleh Allah Taala?" Beliau menjawab, "Salat pada waktunya. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia tidak lagi memiliki agama lagi, dan salat itu tiangnya agama."
Kala Umar terluka karena tusukan, seseorang mengatakan, "Anda tetap ingin mengerjakan salat, wahai Amirul Mukminin?" "Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat," jawabnya. Lalu, ia pun mengerjakan salat, meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak.

Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan salat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya."Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik, selain mengakhirkan salat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya."

Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang hamba mengerjakan salat di awal waktu, salat itu--ia memiliki cahaya--akan naik ke langit sehingga sampai ke Arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.' Dan, apabila seorang hamba mengerjakan salat bukan pada waktunya, salat itu--ia memiliki kegelapan--akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang, lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku'."






[1]. Kecuali Shalat Isya, karena waktu Shalat Isya sunnahnya di akhir waktu.

Minggu, 25 Januari 2015

SEJARAH PERAYAAN HARI ULANG TAHUN


1. FIRAUN MERAYAKAN HARI LAHIRNYA SETIAP TAHUN
Jauh ribuan tahun yang lalu, saat Firaun memakai mahkota untuk bangsa Mesir Kuno, masyarakat menganggapnya sebagai wujud Dewa bahkan Tuhan. Sehingga hari tersebut dianggap lebih penting dibanding kelahiran masyarakat biasa ke dunia. Tanggal kelahiran Firaun sebagai 'Dewa' tersebut terus dirayakan berulang kali setiap tahun.
Berdasarkan Alkitab , Kejadian 40:20-22 : ”Ternyata hari yang ketiga adalah hari lahir Firaun, ia mengadakan pesta . . . Maka dikembalikannya pengawas juru minuman pada kedudukannya sebagai juru minuman . . . Tetapi pengawas juru roti digantungnya.”[1]

2. BANGSA YUNANI MENAMBAHKAN KUE DAN LILIN
Bangsa Yunani percaya bahwa setiap orang mempunyai roh pelindung atau Daemon yang hadir pada setiap kelahirannya dan menjaga dia selama hidupnya. Roh ini mempunyai hubungan mistik dengan tuhan (dewa) yg hari kelahirannya sama dengan orang yg merayakan hari ulang tahun itu.
Bangsa Yunani biasa menggunakan kue untuk persembahan ke kuil Dewi Bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Kemudian meletakkan lilin-lin di atasnya karena membuat kue tsb terlihat terang seperti bulan.
Akhirnya bangsa Yunani melanjutkan tradisi ini, perayaan hari ulang tahun dgn membuat kue dan lilin di atasnya.
----
Awalnya Kristen tidak merayakan hari ulang tahun.
”Gagasan mengenai pesta hari ulang tahun sama sekali tidak ada dalam pikiran umat Kristen masa ini pada umumnya.”—The History of the Christian Religion and Church, During the Three First Centuries (New York, 1848)

3. BANGSA ROMAWI MERAYAKAN ULANG TAHUN
Karena pemikiran Bangsa Romawi banyak dipengaruhi oleh Bangsa Yunani (mereka belajar kepada bangsa Yunani), Bangsa Romawi pun mengikuti tradisi ini.


4. BANGSA JERMAN SEBAGAI UMAT KRISTIANI MULAI MERAYAKAN ULANG TAHUN
Pada abad ke-18, bangsa Jerman mulai merayakan ulang tahun. Adonan roti manis diberi bentuk bayi Yesus di kain lampin dan digunakan untuk memperingati hari ulang tahunnya. Ini kue ulang tahun khusus kemudian muncul kembali di Jerman sebagai Kinderfest atau perayaan ulang tahun seorang anak muda.
Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Kue tsb biasanya dinamakan “Geburtstagorten”. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakkan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga. Mereka percaya bahwa meniup semua lilin yang ada dalam satu hembusan akan membawa nasib baik.


REFERENSI
[1] Alkitab, Kejadian 40:20-22 : “Setelah semuanya itu, juru minuman+ raja Mesir dan juru rotinya berdosa terhadap tuan mereka, raja Mesir.+ 2 Firaun marah kepada kedua pejabatnya itu,+ pengawas juru minuman dan pengawas juru roti.+ 3 Maka ia menjebloskan mereka ke dalam penjara di rumah kepala pasukan pengawal,+ ke dalam rumah tahanan+ tempat Yusuf ditahan. 4 Lalu kepala pasukan pengawal menugasi Yusuf untuk menyertai mereka agar dia melayani mereka;+ dan mereka terus berada dalam penjara selama beberapa waktu.
5 Kemudian keduanya mendapat mimpi,+ masing-masing dengan mimpinya sendiri pada malam yang sama,+ masing-masing dengan mimpinya yang mempunyai tafsirannya sendiri,+ juru minuman dan juru roti dari raja Mesir yang ditahan di rumah tahanan.+ 6 Pada waktu Yusuf datang menemui mereka pada pagi harinya dan melihat mereka, mereka tampak murung.+ 7 Maka dia bertanya kepada kedua pejabat Firaun yang dipenjara bersama dia di rumah majikannya, ”Mengapa mukamu suram hari ini?”+ 8 Jawab mereka kepadanya, ”Kami mendapat mimpi, tetapi tidak ada yang menafsirkannya untuk kami.” Maka Yusuf mengatakan kepada mereka, ”Bukankah penafsiran berasal dari Allah?+ Ceritakanlah kiranya mimpi itu kepadaku.”
9 Dan pengawas juru minuman itu pun menceritakan mimpinya kepada Yusuf dan mengatakan kepadanya, ”Dalam mimpiku tampak ada tanaman anggur di depanku. 10 Tanaman anggur itu mempunyai tiga ranting, dan tampaklah tanaman itu sedang bertunas.+ Bunga-bunganya muncul. Tandan-tandannya mengeluarkan anggur yang matang. 11 Dan cawan Firaun ada di tanganku, kemudian aku mengambil buah-buah anggur itu dan memerasnya ke dalam cawan Firaun.+ Setelah itu aku memberikan cawan tersebut ke tangan Firaun.”+ 12 Lalu Yusuf mengatakan kepadanya, ”Inilah tafsirannya:+ Ketiga ranting itu adalah tiga hari. 13 Dalam tiga hari dari sekarang, Firaun akan mengangkat kepalamu dan ia pasti akan mengembalikan engkau pada jabatanmu;+ engkau akan memberikan cawan ke tangan Firaun, seperti kebiasaan sebelumnya, sewaktu engkau melayani sebagai juru minumannya.+ 14 Akan tetapi, ingatlah aku segera setelah keadaanmu menjadi baik,+ dan tunjukkanlah kiranya kebaikan hati yang penuh kasih kepadaku dan sebutkanlah tentang aku kepada Firaun,+ dan keluarkanlah aku dari rumah ini. 15 Sebab aku sebenarnya diculik dari tanah orang Ibrani;+ dan di sini pun aku sama sekali tidak melakukan apa-apa yang membuat mereka harus memasukkan aku ke lubang penjara.”+
16 Sewaktu pengawas juru roti melihat bahwa Yusuf menafsirkan sesuatu yang baik, ia lalu mengatakan kepada Yusuf, ”Aku pun ada dalam mimpiku, dan tampak ada tiga keranjang berisi roti putih di atas kepalaku, 17 dan keranjang yang paling atas berisi berbagai macam makanan untuk Firaun,+ buatan juru roti, tetapi unggas+ memakannya dari keranjang di atas kepalaku itu.” 18 Lalu Yusuf menjawab dan berkata, ”Inilah tafsirannya:+ Ketiga keranjang itu adalah tiga hari. 19 Dalam tiga hari dari sekarang, Firaun akan mengangkat kepalamu dengan memenggalnya dan pasti akan menggantung engkau pada tiang;+ dan unggas akan memakan dagingmu.”+

20 Ternyata hari yang ketiga adalah hari lahir Firaun,+ ia mengadakan pesta untuk semua hambanya dan mengangkat kepala dari pengawas juru minuman dan kepala dari pengawas juru roti di tengah-tengah para hambanya.+ 21 Maka dikembalikannya pengawas juru minuman pada kedudukannya sebagai juru minuman,+ dan dia kembali memberikan cawan ke tangan Firaun. 22 Tetapi pengawas juru roti digantungnya,+ tepat seperti tafsiran yang Yusuf berikan kepada mereka.+ 23 Akan tetapi, pengawas juru minuman tidak mengingat Yusuf dan tetap melupakannya.”

Selasa, 28 Oktober 2014

ADAB ISTIRAHAT


1. Tidak tidur terlalu malam
  • Tidak tidur terlalu malam setelah sholat isya kecuali dalam keadaan darurat seperti untuk mengulang (muroja’ah) ilmu atau adanya tamu atau menemani keluarga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya” [Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235)]

2. Tidur disunnahkan berwudhu
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat”  (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

3. Tidur, miring ke kanan
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu”  (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya”  (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

4. Tidak boleh tidur tengkurap
“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla”  (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

5. Membaca doa tidur
“Bismikarabbii wa dho’tu jambii wa bika arfa’uhu in amsakta nafsii farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi ‘ibaadakasshaalihiin”

“Dengan Nama-Mu, ya Rabb-ku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan Nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih”  (HR. Al-Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, Abu Dawud No. 5050 dan At-Tirmidzi No. 3401)

5. Pada waktu menjelang tidur malam, membaca sbb:
a. Ayat Kursi
Seseorang berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al-Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Mengomentari hal itu, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Benar apa yang dikatakannya, padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari).
b. Surat Al-Ikhlash – An-Naas 3 x.
“Nabi Saw ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (QS Al-Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (QS Al-Falaq), dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (QS An-Naas). Lalu beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).

6. Membersihkan tempat tidur sebelum tidur
“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi”  (HR. Al Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 dan Abu Dawud No. 5050)

7. Membaca doa setelah bangun tidur
“Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilayhinnusyuur”

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”  (HR. Al-Bukhari No. 6312 dan Muslim No. 2711)

8. Setelah bangun malam, disunnahkan bersiwak
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)

9. Anak laki-laki dan perempuan hendaknya dipisahkan tempat tidurnya setelah berumur 6 tahun. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi)

10. Jika bermimpi buruk, jangan sekali-kali menceritakannya pada siapapun kemudian meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim IV/1772), dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk dan dari keburukan mimpi yang dilihat. (Itu dilakukan sebanyak tiga kali) (diriwayatkan Muslim IV/1772-1773). Hendaknya berpindah posisi tidurnya dari sisi sebelumnya. (diriwayatkan Muslim IV/1773). Atau bangun dan shalat bila mau. (diriwayatkan Muslim IV/1773).

11. Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut. (HR. Muslim)

12. Disunnahkan tidur siang
 “Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)
Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

13. Istirahat hati/rihlah

"Hiburlah hati suatu ketika karena jika ia dipaksa terus-menerus terhadap sesuatu maka ia akan menjadi buta..." (Ali bin Abi Thalib)