Rabu, 03 September 2014

Keutamaan Haji dan Umrah

1. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
2. Dari Ibnu Umar :
“Adapun keluarmu dari rumah untuk berhaji ke Ka’bah maka setiap langkah hewan tungganganmu akan Allah catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Sedangkan wukuf di Arafah maka pada saat itu Allah turun ke langit dunia lalu Allah bangga-banggakan orang-orang yang berwukuf di hadapan para malaikat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Mereka adalah hamba-hambaKu yang datang dalam keadaan kusut berdebu dari segala penjuru dunia. Mereka mengharap kasih sayangKu, merasa takut dengan siksaKu padahal mereka belum pernah melihatKu. Bagaimana andai mereka pernah melihatKu?!
Andai engkau memiliki dosa sebanyak butir pasir di sebuah gundukan pasir atau sebanyak hari di dunia atau semisal tetes air hujan maka seluruhnya akan Allah bersihkan.
Lempar jumrohmu merupakan simpanan pahala. Ketika engkau menggundul kepalamu maka setiap helai rambut yang jatuh bernilai satu kebaikan. Jika engkau thawaf, mengelilingi Ka’bah maka engkau terbebas dari dosa-dosamu sebagaimana ketika kau terlahir dari rahim ibumu” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Kabir no 1339o. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahihul Jaami’ no. 1360)
3. Doa Haji Mabrur

Ya Allah, semoga Engkau berkenan menghadirkan kami ke Mekah, Arafah dan Madinah, dan berikanlah kami (pahala) haji mabrur, dan ridhailah kami, ampunilah kami, dan sayangilah kami. Engkaulah kekasih kami, maka tolonglah kami atas golongan orang yang kafir

Mengenai haji mabrur, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
““Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Haji disebut jihad karena di dalam amalan tersebut terdapat mujahadah (jihad) terhadap jiwa.”[1]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol’.”[2]


Pengertian Haji Mabrur

Ibnu Kholawaih mendefinikan haji mabrur sebagai berikut:  “Haji mabrur adalah haji yang maqbul (haji yang diterima).” Ulama yang lainnya mengatakan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri dengan dosa.” Pendapat ini dipilih oleh An Nawawi.[3]

Para pakar fiqh mengatakan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori dengan kemaksiatan pada saat melaksanakan rangkaian manasiknya. Sedangkan Al Faro’ berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi hobi bermaksiat. Dua pendapat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Arabi.

Haji mabrur menurut Al Hasan Al Bashri rahimahullah, beliau mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat.”

Haji mabrur menurut Al Qurthubi rahimahullah, beliau menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.”[4]

An Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata birr yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.”[5]

Jika telah dipahami apa yang dimaksudkan dengan haji mabrur, maka orang yang berhasil menggapai predikat tersebut akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.”[6]

Di antara bukti dari haji mabrur adalah gemar berbuat baik terhadap sesama. Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau,

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim no. 1778. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ no. 2819).

Demikianlah kriteria haji mabrur. Kriteria penting pada haji mabrur adalah haji tersebut dilakukan dengan ikhlas dan bukan atas dasar riya’, hanya ingin mencari pujian, seperti ingin disebut “Pak Haji”. Ketika melakukan haji pun menempuh jalan yang benar, bukan dengan berbuat curang atau menggunakan harta yang haram, dan ketika melakukan manasik haji pun harus menjauhi maksiat, ini juga termasuk kriteria mabrur. Begitu pula disebut mabrur adalah sesudah menunaikan haji tidak hobi lagi berbuat maksiat dan berusaha menjadi yang lebih baik. Sehingga menjadi tanda tanya besar jika seseorang selepas haji malah masih memelihara maksiat yang dulu sering ia lakukan, seperti seringnya bolong shalat lima waktu, masih senang mengisap rokok atau malah masih senang berkumpul untuk berjudi. Jika demikian keadaannya, maka sungguh sia-sia haji yang ia lakukan. Biaya puluhan juta dan tenaga yang terkuras selama haji, jadi sia-sia belaka.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya. Oleh karenanya, senantiasalah memohon kepada Allah agar kita yang telah berhaji dimudahkan untuk meraih predikat haji mabrur. Yang tentu saja ini butuh usaha, dengan senantiasa memohon pertolongan Allah agar tetap taat dan menjauhi maksiat. Semoga Allah menganugerahi kita haji yang mabrur. Amin Yaa Mujibas Saailin.

Sumber :
http://ibadahhajidanumrah.tohasyahputra.com/haji-mabrur.htm

Minggu, 31 Agustus 2014

Hukum Kartu Kredit

Diantara yg disepakati para ulama, kartu kredit yg bersifat mengutangkan sejumlah uang kemudian dikembalikan dengan bunga lantaran keterlambatan pembayaran adalah haram karena termasuk riba yang jelas-jelas dilarang dalam al-Quran.
Sebagian kalangan mengatakan, bila kita sanggup membayar tagihan kartu kredit sebelum jatuh tempo, maka itu sah dan kita boleh menggunakannya dalam bertransaksi. Alasannya, kita sudah selamat dari riba, karena membayr tepat waktu, sehingga terhindar dari denda bunga.
Dalilnya adalah hadits dari Aisyah ra yang membeli budak wanita bernama Barirah. Pemiliknya bersedia menjual dengan syarat hak wala' tetap ada pada mereka. Syarat ini tidak diperbolehkan oleh Rasulullah saw, tetap beliau tetap mengatakan kpd Aisyah ra, "Belilah dia dan iyakan saja syarat itu, tapi hak wala' tetap ada kpd yang memerdekakan." Rasulullah saw menyatakan teruskan saja jual belinya dengan syarat tersebut, tapi nanti secara perdata hak wala' tetap berada di tangan Aisyah ra, krn persyaratan yg diajukan penjual dianggap batal secara otomatis, sehingga tidak perlu dihiraukan.
Dari hadits ini sebagian ulama yg membolehkan penggunaan kartu kredit mengambil kesimpulan bahwa transaksi kartu ini tetap sah, dengan tidak membayar bunganya, krn persyaratan adanya bunga bila terlambat membayar otomatis batal karena ia membayar sebelum jatuh tempo sehingga tdk perlu dihiraukan.
Akan tetapi, beberapa ulama kontemporer menganggap penggunaan kartu kredit dlm kondisi tdk mendesak tetap haram, krn kita sudah menyepakati suatu perjanjian dosa dgn pihak bank penerbitnya, yaitu kesepakatan utk membayar bunga bila terlambat.
Kesannya, kita seolah mengiyakan dosa riba yg dilarang dalam Al-Quran (QS Al-Maidah:2). Sepertinya para ulama ini menganggap masalah akad kartu kredit berbeda dengan kasus pembelian budak dengan syarat rusak seperti yg dilakukan Aisyah ra.
Asosiasi Ulama Fiqh Internasional yg tergabung dalam organisasi Muktamar Alam Islami telah mengadakan rapat di Riyadh dari tgl 23-28 Sept 2000. Salah satu keputusannya adalah kep no. 5/6/1/7 yang salah satu butirnya mengharamkan pemakaian kartu kredit yg ada syarat pembayaran bunga di dalamnya, meskipun si pemakai kartu yakin bahwa dia bisa membayar tepat waktu sehingga terhindar dari bunga.
Selain itu, fatwa resmi Komisi Tetap utk Fatwa dan Bimbingan Islam Kerajaan Arab Saudi juga mengharamkan bentuk transaksi kartu yg disyaratkan didalamnya bunga bila tdk mampu membayar sesuai tempo.
Secara ekonomi, penggunaan kartu kredit juga tidak dianjurkan. krn bisa menstimulasi keinginan menjadi konsumtif, shg terdorong utk membeli barang demi melihat adanya kemudahan membeli tanpa uang tunai dg harapan bisa dibayar di lain waktu. Akhirnya, betapa banyak orang yg terjerembab ke jurang hutang dan tidak sanggup membayar tagihan kartu kreditnya sehingga harus berurusan dengan debt collector. Dengan demikian dalam keadaan normal kartu kredit lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Saran kami, hindari penggunaan kartu kredit bila bukan dalam keadaan darurat. Keadaan darurat terjadi ketika tak ada jalan lain untuk mendapatkan sesuatu yg hidup Anda bergantung padanya. Itupun harus membayar tagihan kartu sebelum masa bunga atau denda berlaku. Namun bila hanya sekedar membeli barang dengan tingkat kebutuhan sekunder maka tidak perlu menggunakan kartu kredit.

Ust. Anshari Taslim, L.c.
Dari majalah "Sabiliku"

Selasa, 17 Juni 2014

Keharmonisan Rumah Tangga Dakwah




Ikhwah wal akhawat rahimakumullah
Allah SWT berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (30: 21)

Ayat di atas menegaskan hakikat dan tujuan pembentukan keluarga, dan Allah menjadikannya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaannya. Inti dari pembentukan keluarga adalah terjalinnya keluarga yang harmonis -sakinah (ketenangan hidup), mawaddah (saling mencintai) dan rahmah (saling mengasihi), sehingga mendatangkan ridho Allah SWT.

Keluarga merupakan pabrik pencetak generasi, yang dengannya masyarakat yang baik dan shalih akan terbentuk.

Namun kenyataannya, kebanyakan dari keluarga saat ini tidak lagi memainkan peran dan fungsinya dengan baik. Sehingga kalau hari ini kita mendapati banyak pemimpin yang zalim dan tidak amanah, pedagang yang tidak jujur, pendidik yang berakhlak buruk, pemuda yang menyimpang, kaum wanita yang mengumbar aurat, serta berbagai bentuk penyimpangan dalam aqidah dan ibadah; itu merupakan buah yang diperoleh karena telah hilangnya nilai-nilai Islam dalam banyak keluarga muslim.

Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ،
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membentuk dia menjadi Yahudi, Nashrani atau majusi" (HR. Bukhari)

Hadits di atas dengan gamblang menjelaskan bahwa peran keluarga sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai pada anggotanya. Keluargalah lingkungan pertama yang akan membentuk watak seseorang.

Ikhwan wa akhawat hafidzokumullah
Besarnya ihtimam (perhatian) Islam terhadap kehidupan keluarga menunjukkan pentingnya posisi dan peran keluarga. Islam menghendaki nilai-nilai dan ajaran Islam dapat ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan keluarga.

Setiap muslim yang hendak membentuk sebuah rumah tangga hendaknya memahami dengan benar tujuan berkeluarga. Ia juga harus mengetahui bagaimana proses pembentukan keluarga, termasuk bagaimana memilih pasangan hidup yang akan menemaninya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Ikatan keluarga yang dibentuk oleh seorang muslim dan muslimah merupakan ikatan yang penuh dengan keberkahan. Dengannya, keduanya saling menghalalkan. Dengannya pula, keduanya memulai rihlah thawilah (perjalanan panjang), dalam suasana saling mencintai, menyayangi dan menghargai.

Dengan ikatan ini, lahirlah rasa tentram dan tenang serta kebahagiaan hidup yang saling memahami, tolong-menolong dan nasihat-menasehati. Dan dari sinilah, terbentuk sebuah keluarga muslim yang harmonis yang kelak menjadi labinah (batu bata) yang kokoh bagi terbentuknya masyarakat muslim.

Ikhwah wa akhawat ad-daiyah
Sebagai keluarga dakwah, kita adalah cermin bagi keluarga di sekitar kita. Kita adalah teladan bagi keluarga madu di sekeliling kita. Keharmonisan keluarga kita menjadi sorotan utama melebihi pelajaran taklim dan materi dakwah yang kita sampaikan kepada mereka.

Karena itu, perhatikanlah beberapa karakteristik berikut ini yang harus terwujud dalam sebuah keluarga muslim yang harmonis.

Pertama, dirikanlah keluarga di atas landasan Ibadah kepada Allah SWT

Seluruh proses berkeluarga yang dimulai dari niat membentuk keluarga, memilih pasangan, pelaksanaan aqad nikah dan walimah serta seluruh interaksi yang terjadi setelahnya, hendaknya dibingkai dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah dan untuk mengharapkan ridho-Nya. Hindarilah semua perbuatan yang melanggar syariat Allah SWT dan petunjuk Rasulullah SAW. Dengan demikian, berumahtangga bagi seorang mukmin ialah untuk melaksanakan penghambaan diri kepada Allah. Bukan sebaliknya, menghalanginya dari tugas utama tersebut.

Kedua, terapkanlah Islam secara kaaffah dan tegakkan nilai-nilai Al-Quran dan sunnah Rasulullah dalam segala urusan rumah tangga.

Usahakanlah semaksimal mungkin, keluarga yang kita bina adalah laboratorium pertama dan utama dalam penerapan syariat Islam: dalam hubungan antara suami isteri, hubungan orang tua dengan anak-anak, maupun hubungan anggota keluarga dengan kerabat dan masyarakatnya.

Ketiga, hidupkanlah suasana amar maruf nahi munkar dan nasihat menasehati.

Keluarga muslim merupakan keluarga yang di dalamnya berhimpun individu-individu yang berkumpul karena Allah SWT, saling mengajak kepada ketaatan dan ketakwaan kepada-Nya, saling menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar.

Dari situlah, pembiasaan amar maruf nahi mungkar yang diterapkan dalam keluarga selanjutnya diperluas dan diterapkan kepada tetangga serta masyarakat sekitarnya. Hal ini dilaksanakan sebagai wujud tanggungjawab menebar kebaikan dan menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat.

Keempat, wujudkan suasana kasih sayang dalam keluarga
  
Dalam surah ar-Rum ayat 21, Allah SWT berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri daripada jenismu supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berftkir. "

lbnu Abbas mengatakan, "Mawaddah adalah cinta kasih seorang suami kepada isterinya, dan rahmah adalah kasih sayang seorang suami agar isterinya jangan sampai menderita atau mengalami kesusahan."

Suasana rumahtangga yang dibina di atas dasar cinta dan kasih sayang yang suci ini akan menenteramkan dan memberi ketenangan kepada jiwa. Dalam hal ini tiada contoh yang lebih baik dan tepat daripada rumah tangga Rasuluillah SAW yang dibina bersama dengan Ummul Muminin Khadijah dan Ummahatul Muminin lainnya.

Kelima, bergaullah dalam keluarga atas dasar Al-Muasyaroh bil Maruf
Al-Muasyaroh bil Maruf ialah: Pergaulan dan hidup bersama secara baik yang diridhai Allah. Tidak dikatakan sesuatu itu maruf melainkan ia baik dan diridhai Allah serta jauh pula dari kemungkaran, kemaksiatan, penganiayaan, kedzaliman dan sebagainya.
Karena itu, pergaulan suami isteri hendaklah didasarkan atas tujuan meraih keridhaan Allah, serta semata-mata mengharapkan balasan dari-Nya. Manakala pendidikan dan bimbingan kepada isteri dan keluarga kearah keridhaan Allah menjadi dasar tindakan seorang suami, maka akan terwujudlah keluarga muslim yang diberkahi Allah SWT.
Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku" (HR. urmudzi)

Tapi, bersikap baik dan lemah lembut bukan berarti membiarkan isteri dan keluarga melakukan kemungkaran dan bergelimang dengan dosa dan maksiat, kerena kalau ini yang terjadi berarti kita telah bersikap lalai terhadap tanggungjawab terhadap keluarga.

Enam, bangunlah keluarga dengan tarbiyah Islam
Salah satu ciri penting yang membedakan keluarga muslim dengan  yang bukan ialah pelaksanaan tarbiyah Islam yang benar di dalamnya. Setiap muslim dituntut supaya memberi perhatian serius mengenai perkara itu. Anggota keluarga yang tidak mendapat tarbiyah Islam atau yang lebih parah lagi jika tarbiyah mereka terus terabaikan, mereka bukan saja tidak mampu menyambung perjuangan Islam tetapi mungkin menjadi penghalang perjuangan itu.

Terakhir, ciptakan keteladanan dalam segala hal
Keteladanan sangat diperlukan dalam proses penanaman nilai-nilai Islam di dalam keluarga. Dengan keteladanan, kebaikan akan cepat diikuti dan punya pengaruh kuat bagi anggota keluarga. Seorang anak akan terbiasa melaksanakan adab-adab Islami manakala ia melihat dan mendapati kedua orang tuanya melazimkan dan memberikan contoh adab-adab tersebut dilakukan sejak ia kecil. Keteladanan orang tua akan memberikan suasana kondusif dan menjadi lahan subur bagi proses pendidikan anak.

Bila karekteristik di atas dapat diwujudkan di dalam keluarga-keluarga muslim saat ini, maka hal tersebut tidak hanya membentuk keluarga harmonis, namun juga menjadi peluang untuk melahirkan sebuah generasi ideal yang kita harapakan, bahkan sangat mungkin untuk mewujudkan kembali kejayaan dan kemuliaan dunia Islam yang sesungguhnya, yang merupakan impian panjang kaum muslimin yang belum terwujud sampai saat ini.

Wallahu alam bisshowab